Meyakinkan Cinta, Meyakini Cinta, dan Menyikapinya Dengan Cinta

Akan ada saatnya kau kehilangan Cinta.
Pun kemudian, kau merasa hidup ini hampa. Tak merasa dicinta, tak tahu hendak mencinta siapa.
Hingga saatnya nanti kau tak menduga, kedapatan sedang jatuh Cinta.

————–

Sama seperti ketika kau tak mengira bahwa Cinta akan kandas ditelan waktu.
Kau juga tidak menyangka bahwa Cinta akan datang tanpa isyarat.
Kau hanya dapat menduga dan berencana.

———————————————————-

Tak ada Cinta yang terlarang. Semuanya sah.
Tuhan yang menumbuhkan Cinta dalam hatimu dengan cara yang misterius.
Oleh karenanya, kita sering terkejut oleh perasaan Cinta dalam diri.
“Tak kusangka, aku bercinta dengan seorang gelandangan”, ujar sang putra mahkota.
“Aku bahagia dicintai seorang pelacur. Kini aku pun mencintainya”, Ujar si dokter.

———————————————————-

Masalahnya, kita kerap tertipu oleh perasaan.
Hati ini tidak peka. Sulit membedakan antara Cinta dan bukan Cinta.
Apakah ini hanya sekedar nafsu, kebutuhan, kebiasaan, atau pelarian. Atau yang lainnya lagi.

———————————————————-
Cinta dapat memenuhi segalanya .
Nafsu, kebutuhan, kebiasaan, dan lainnya dapat terpenuhi ketika kita bercinta.
Namun mereka semua, dapat berdiri sendiri tanpa Cinta.
Kita kerap terbuai oleh semua hal ini dan memfitnah Cinta dalam diri kita masing-masing.

———————————————————-

Cinta dari Tuhan, hadir dalam rupa esensi.
Diolah sedemikian rupa, sesuai mau kita.
Hanya diri kita sendiri yang dapat menilai, bahwa Cinta telah hadir atau pergi.
Juga diri kita sendiri yang kerap memfitnah Cinta, demi nama nafsu dan keserakahan belaka.

———————————————————-

Dan ketika tiba saatnya kau dapat meyakini Cinta dalam hatimu.
Perjuangkanlah!!
Cinta murni itu adalah seturut kehendak Yang Kuasa.
Tak perlu ragu, malu, apalagi khawatir.
Jika Tuhan yang menumbuhkan rasa, pastilah Tuhan juga akan menerbitkan Matahari yang menyinari hatimu.

———————————————————-

Cinta dikirim oleh Tuhan dari Surga dan ditanam untukmu.
Kaupun tak boleh tinggal diam. Peliharalah!
Kaupun tak boleh menodainya. Setialah!
Kaupun tak boleh menolaknya. Berpasrahlah!
Kau pasti tahu, sesiapa yang menolak Cinta Allah akan berdosa.
Begitu juga untukmu yang meninggalkan dan tak memilihara Cinta.

———————————————————-

Perjuangkanlah Cintamu.
Dan bersyukurlah bagi mereka yang mencintaimu.
Terkadang keduanya tak berjalan beriringan.
Namun begitulah cinta, bukan dagangan.

———————————————————-

Jangan munafik dengan menyebut ini hanya curhatanku atau hanya terjadi padaku.
Lebih baik kita bersama-sama berseru :

“Tuhan, terima kasih atas Cinta yang Engkau tanam dalam hatiku”

@cekinggita

sumber: http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2013/09/08/meyakinkan-cinta-meyakini-cinta-dan-menyikapinya-dengan-cinta-589804.html

Bambu Gila

Bambu Gila

Maluku punya banyak budaya dan beragam Tarian, tidak heran Banyak penyanyi, pemusik dan penari yang berasal dari Maluku. Budaya Maluku memang erat sekali dengan tradisi bermain musik serta tari-menari.

Diantara begitu banyaknya Tarian Tradisional khas Maluku, ada 1 yang unik yaitu Salah satu tarian tradisional adalah sebuah tarian yang bernama tari “Bulu Gila” atau Bambu Gila, suatu tarian yang berasal dari permainan rakyat Maluku Tengah. Tarian ini begitu banyak dicari wisatawan yang mengunjungi Maluku, begitu menariknya karena Tarian Bambu Gila ini dibantu oleh kekuatan Supranatural.

Untuk memulai tarian Bambu Gila diperlukan beberapa syarat, antara lain Mantra dari seorang dukun, kemenyan, dan tujuh pria kuat yang akan bertarung melawan sebatang bambu dengan panjang sekitar 2,5 meter dan berdiameter 8 cm. tarian khas rakyat Maluku ini merupakan pemandangan menarik yang jarang bisa ditemui di Indonesia. Nikmati juga pengalaman-pengalaman mistis ketika menyaksikan ‘bambu gila’ di Maluku. Setelah menyaksikan pertunjukan ini, dapat dipastikan orang yang menonton atau ikut serta dalam permainan ini akan merasakan pengalaman supranatural yang mungkin jarang atau belum pernah Anda rasakan sebelumnya.

Tarian Bambu Gila ini juga dikenal dalam bahasa setempat dengan nama Buluh Gila atau Bara Suwen. Pertunjukan ini hanya bisa ditemui di dua desa yaitu Desa Liang, kecamatan Salahatu, dan Desa Mamala, kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Kedua nya ada di Provinsi Maluku Utara, namun atraksi yang bernuansa mistis ini dapat dijumpai di beberapa daerah di kota Ternate dan sekitarnya.

Tarian Bambu Gila ini adalah permainan tradisional yang biasanya para pemainnya adalah pemuda desa pada acara-acara tertentu. pada saat arwah sudah mulai masuk para penari akan bergerak dengan lincah mengikuti gerakan bambu gila yang telah dimanterai.

Bambu ini bergerak seolah olah hidup dan bergerak Gila, Mereka para penari akan membuat gerakan rangkaian dan saling mengaitkan tangan, juga untuk mengadakan Tarian Bambu Gila ini dibutuhkan lokasi yang luas sehingga aman untuk dipentaskan. Dengan gerakan yang begitu tidak teratur dan tidak bisa dikendalikan maka para penari dituntut memiliki fisik yang cukup kuat kalau tidak kuat akan membuat badan kita terpelanting kesana kemari.

sumber : ceritamu.com

Maluku

Maluku

Ambon adalah ibu kota Propinsi Maluku merupakan salah satu propinsi tertua dalam sejarah Indonesia merdeka, dikenal dengan kawasan Seribu Pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Secara historis kepulauan Maluku terdiri dari kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai pulau-pulau tersebut. Oleh karena itu, diberi nama Maluku yang berasal dari kata Al Mulk yang berarti Tanah Raja-Raja. Daerah ini dinyatakan sebagai propinsi bersama tujuh daerah lainnya ? Kalimantan, Sunda Kecil, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera ? hanya dua hari setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun secara resmi pembentukan Maluku sebagai propinsi daerah tingkat I RI baru terjadi 12 tahun kemudian, berdasarkan Undang Undang Darurat Nomor 22 tahun 1957 yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 1958.

Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, Kepulauan Maluku memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia secara keseluruhan. Kawasan kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah ini sudah dikenal di dunia internasional sejak dahulu kala. Pada awal abad ke-7 pelaut-pelaut dari daratan Cina, khususnya pada zaman Dinasti Tang, kerap mengunjungi Maluku untuk mencari rempah-rempah. Namun mereka sengaja merahasiakannya untuk mencegah datangnya bangsa-bangsa lain kedaerah ini.
Pada abad ke-9 pedagang Arab berhasil menemukan Maluku setelah mengarungi Samudra Hindia. Para pedagang ini kemudian menguasai pasar Eropa melalui kota-kota pelabuhan seperti Konstatinopel. Abad ke-14 adalah merupakan masa perdagangan rempah-rempah Timur Tengah yang membawa agama Islam masuk ke Kepulauan Maluku melalui pelabuhan-pelabuhan Aceh, Malaka, dan Gresik, antara 1300 sampai 1400.
Pada abad ke-12 wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya meliputi Kepulauan Maluku. Pada awal abad ke-14 Kerajaan Majapahit menguasai seluruh wilayah laut Asia Tenggara. Pada waktu itu para pedagang dari Jawa memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.

Dimasa Dinas Ming (1368 ? 1643) rempah-rempah dari Maluku diperkenalkan dalam berbagai karya seni dan sejarah. Dalam sebuah lukisan karya W.P. Groeneveldt yang berjudul Gunung Dupa, Maluku digambarkan sebagai wilayah bergunung-gunung yang hijau dan dipenuhi pohon cengkih ? sebuah oase ditengah laut sebelah tenggara. Marco Polo juga menggambarkan perdagangan cengkih di Maluku dalam kunjungannya di Sumatra.

Budaya

Musik

 Tarian

Pakaian Adat

Rumah Adat

Senjata Tradisional

Sungai

sumber

http://www.fatawisata.info/maluku

Gunung

Kora-kora warisan budaya dari banda

Pada awal abad ke-17, kora-kora merupakan perahu perang yang dilengkapi dengan meriam kecil untuk menghancurkan kapal-kapal Belanda. Perahu ini sempit tetapi panjang, mampu meluncur cepat tetapi rawan terbalik.

Kora-kora telah menuntaskan tugas utama sebagai perahu perang. Namun, kebanggaan atas kora-kora tetap langgeng di hati masyarakat Banda. Setiap kampung adat di Kepulauan Banda memiliki perahu kora-kora lengkap dengan ”pasukan” dayung. Upacara ritual dalam pembuatan perahu hingga persiapan turun ke laut juga masih dipegang teguh.

Warisan budaya bahari kora-kora kini berevolusi menjadi atraksi wisata di Banda, melengkapi keindahan alam bawah lautnya. Bagi wisatawan, balap kora-kora menjadi hiburan yang menyenangkan.Namun, bagi masyarakat Banda kemenangan dalam balapan kora-kora merupakan kebanggaan luar biasa yang tak bisa dibandingkan dengan nilai hadiah perlombaan. Kora-kora adalah akar budaya bahari masyarakat Banda.

sumber : d3pariwisataunj

JEJAK PERJUANGAN A.M. SANGAJI DI KALIMANTAN

Oleh WAJIDI

Di Jakarta Pusat, Yogyakarta, Samarinda, atau mungkin di kota lainnya, terdapat nama Jalan A.M. Sangaji. Penamaan jalan untuk mengenang A.M. Sangaji selaku pejuang perintis kemerdekaan Indonesia kelahiran Maluku. Ia seangkatan dengan pejuang perintis kemerdekaan lainnya seperti H.O.S. Cokroaminoto dan H. Agus Salim. Oleh para pejuang kemerdekaan sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, A.M. Sangaji disebut sebagai pemimpin tua. “Jago Tua”, kata beberapa surat kabar di ibukota Republik. “Hindeburg Kalimantan”, kata s.k. Merdeka Solo. Belanda dan Jepang pun tahu tentang kedudukan beliau sebagai pemimpin tua itu. A.M. Sangaji memiliki mobilitas. Ia tidak hanya di Maluku, tapi juga pernah berkiprah di Borneo, terlebih lagi di Jawa. Di tahun 1920-an, saat berada di Surabaya, ia melakukan korespondensi dengan Mohamad Horman, seorang tokoh pergerakan Sarekat Islam cabang Banjarmasin. Tidak hanya itu, ia juga pernah lama tinggal di Borneo untuk menggelorakan semangat kebangsaan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Di Samarinda Kalimantan Timur, A.M. Sangaji melalui Balai Pengadjaran dan Pendidikan Rakjat (BPPR) yang didirikannya ia mengelola Neutrale School untuk menampung anak-anak sekolah dari kalangan bumiputera.
Setelah mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, A.M. Sangaji mengkoordinir suatu perjalanan panjang yang dilakukan oleh 3 grup/gelombang dari Samarinda ke Banjarmasin untuk bertemu dengan pimpinan BPRI sekaligus memberitahukan proklamasi kemerdekaan, mengibarkan bendera, dan memberikan kesadaran kepada rakyat di daerah-daerah yang dilalui.
Rombongan A.M. Sangaji tiba di Marabahan Kalimantan Selatan, akan tetapi beberapa saat kemudian yakni pada bulan April 1946 polisi Belanda berhasil menangkap A.M. Sangaji dan memenjarakannya di penjara Banjarmasin, yakni bangunan penjara yang lokasinya sekarang ditempati Gedung Pos Besar Banjarmasin. Penjara Banjarmasin saat itu penuh sesak dengan tawanan. Sebagian besar adalah hasil penangkapan besar-besaran yang dilakukan Belanda pasca meletusnya pemberontakan 9 November 1945 di Banjarmasin, pemberontakan 5 Desember 1945 di Marabahan, dan pemberontakan “trikesuma” di Barabai tanggal 19 ke 20 Maret 1946.
Banyaknya pejuang yang ditangkap Belanda, mengakibatkan penjara Banjarmasin penuh sesak dengan para tawanan. Mereka yang mengalami mengatakan hanya berdiri, dan sukar bebas bernapas dan bahkan kelaparan karena makanan seringkali diberikan satu kali sehari dengan porsi sepiring dibagi empat, sehingga kulit pisang yang dilempar penjaga pun menjadi santapan dan rebutan. Akan tetapi, banyaknya pejuang dan saat dijebloskannya A.M. Sangaji ke dalam penjara Banjarmasin, telah menjadikan penjara itu seolah-olah daerah kekuasaan Republik. 
Pak Sangaji masuk dengan lenggang yang gagah, ayun tangan sebagai seorang prajurit yang menang perang. Seruan merdeka bergemuruh sebagai sambutan dari segenap bilik penjara. Dan dari bangsal D (bangsal yang besar) bergema lagu Indonesia Raya. Polisi tak bisa bertindak apa-apa.
Di dalam Majalah Mandau yang diterbitkan oleh Ikatan Perjuangan Kalimantan (IPK) di Yogyakarta (1948) Pak Sangaji menceritakan, “Keadaan kami ketika itu dalam penjara adalah sebagai dalam daerah merdeka, daerah Republik, di tengah-tengah daerah musuh. Di sana ada pamong prajanya, ada polisinya, ada dokternya, ada kadi-nya dan terutama pemuda-pemuda sebagai prajurit yang menjadi isi tempat tahanan itu”, kata Pak Sangaji.
Selepas keluar penjara Banjarmasin, A.M. Sangaji menyeberang ke pulau Jawa. Ia kemudian memimpin Laskar Hisbullah yang berpusat di Yogyakarta dan pernah menugaskan R. Soedirman untuk membentuk Laskar untuk daerah Martapura dan Pelaihari, serta Tamtomo sebagai penghubung Markas Besar Hisbullah Yogya untuk Kalimantan. Akan tetapi, ia kemudian tewas ditembak militer ketika Agresi Militer Belanda I di Yogyakarta tahun 1947. Sumber: Buku “Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942 (2007)”, Buku “Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik (2007)”, Buku “Sejarah Banjar (2003)”, Buku “Provinsi Kalimantan” (1950), buku “Republik Indonesia: Kalimantan” (1953), dan Majalah “Mandau” (1948).

daftar pustaka

http://bubuhanbanjar.wordpress.com/2011/06/30/jejak-perjuangan-a-m-sangaji-di-kalimantan/Image